Jika beberapa tahun silam teman ‘sepermainan’ saya adalah para perempuan muda yang berusia kurang lebih sama dengan saya dan tentu saja menyandang status lajang, maka dalam satu tahun terakhir ini saya lebih banyak menghabiskan waktu ‘bermain’ dengan wanita-wanita yang berusia jauh lebih tua (meski berjiwa muda).
Jika beberapa tahun silam topik terhangat untuk dibicarakan adalah seputar kuliah, amanah, konflik pertemanan, dan dunia kepemudaan (alah), maka dalam satu tahun terakhir ini otak saya lebih banyak dipakai untuk mengamati pembicaraan permasalahan seputar topik keluarga dan kemasyarakatan yang pastinya lebih complicated.
Sebut saja teman-teman saya beragam dari para nenek yang telah bercucu, ibu muda beranak satu, ibu madya beranak tiga, pun ibu matang beranak enam (dunia ini memang ajaib). Percaya atau tidak percaya kami semua berteman dengan baik. Kami tidak sombong, saling tolong menolong, dan menyayangi satu sama lain. Maka cerita kehidupan mereka mengalir begitu saja dari mereka dan saya seperti biasa…lebih suka mendengar daripada berbicara.
Teman saya ini baru pulang dari Tokyo, menemani suami tugas dinas sekaligus menghadiri forum dakwah di sana. Dia pulang membawa sebuah nasihat dan setumpuk marchandise kipas khan sana (saya pilih kipas yang warna pink!!)
Beliau membawa kami pada suasana khusyuk syahdu menghayati tuturan nasihat atas fenomena menjamur yang terjadi di kalangan mereka yang menyebut diri sebagai aktipis dakw**. Fenomena apa? Apalagi kalau bukan Fitnah keluarga. Fenomena ini ternyata merupakan masalah serius yang banyak menghampiri kehidupan rumah tangga keluarga muslim aktivis (rasanya wagu deh pake kata aktivis).
Fitnah keluarga adalah tantangan berat yang menguji banyak pasangan suami istri aktivis tersebut. Mungkin memang ekonomi tak lagi menjadi permasalahan karena banyak dari mereka yang berhasil masuk strata masyarakat menengah-atas. Justru biasanya fitnah ini hadir seiring dengan kemapaman yang sudah memenuhi kehidupan para aktivis tersebut. Karena harta dan kekuasaan hampir selalu membuat para pemegangnya kewalahan menata hati. Ditambah ada banyak ‘wanita pelenggak-lenggok’ yang menempatkan diri mereka sebagai bahan fitnah para lelaki.
Perselingkuhan, percekcokan rumahtangga, hingga perceraian sudah jamak dilakukan para pasangan suami istri kota besar. Dan itu seperti virus yang juga smakin kuat menyerang pertahanan antibodi keluarga para aktivis.
Bahwa ‘fitnah keluarga’ menjangkit keluarga aktivis muslim di Jepang sekalipun. “Mungkin ini bagian dari kekacauan akhir zaman”. Dia membawa keterkejutannya lalu membaginya di forum sebagai sebuah pelajaran yang dapat kami ambil bersama. Sebagian besar teman saya yang sudah berstatus istri ini dibuat geram, khawatir, dan penuh kewaspadaan dengan ‘taujih singkat’ nya. Sedangkan saya dan dua orang teman lain yang masih berstatus lajang (kok kayak menyedihkan banget ya) hanya manggut-manggut polos mencerna tuturan kisah kasih dunia pernikahan.
Satu perspektif melihat bahwa ujian orang yang semakin beriman selalu semakin berat. Tapi di perspektif lain ini lah saya bertanya-tanya dalam hati ‘Tuhan…apakah keberkahan dakwah kami tercerabut? Entahlah. Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang.
Hidup memang perjuangan kuat-kuatan mempertahankan ‘keyakinan’. Menikah bukan seperti cerita dongeng ‘happily ever after’. Tapi lembaran perjuangan baru yang menguji konsistensi iman dan pembuktian kata-kata…#sighing


