Puisi Aku

Aku hanyalah aku. Yang terjebak dalam diriku.

Tidak bisakah kita berdamai dengan semuanya?

Ya! Semuanya….

Berdamai dengan waktu? Berdamai dengan begini-begini saja?

Berdamai dengan ketenangan?

Berdamai dengan aku si musuh bebuyutan

Ada apa kesedihan?

Ada apa pula kesenangan?

Siapa yang paling harus kita bahagiakan?

Bagaimana cara menjadi aku terbaik bagi aku?

Dan mengapa harus selalu banyak pertanyaan?

Aku perlu segera kembali ke ruang rindu

Untuk bersimpuh dan mendapatkan jawaban

Tapi otakku tidak bisa berhenti memperkicaukan semuanya

Padahal telah mengantri sejuta tanda tanya

Kenapa harus ada kesulitan, jika tersedia kemudahan?

Kenapa harus menghadapi kebencian, jika ada banyak jalan kesukaan?

Kenapa harus memasrahkan, bila bisa memperjuangkan?

Ah lagi-lagi. Tanda tanya.

Aku tidak benar-benar mengerti aku

Tampaknya untuk sementara aku perlu menyerah pada meja kayu kedai kopi dan lukisannya di dinding jendela.

Dengan seluruh pengharapan, takut, dan cinta pada pemilik ruang rindu.

Semoga besok masih ada semoga.

Dari Inferno sampai Cerca Trova

Sebuah tontonan menghibur otak atas pengejaran yang mengesankan. Ide brilian, penipuan, teka-teki, motif, fakta sejarah, asmara, kegilaan, dan alur yang tidak mudah terprediksi adalah cara Dan Brown memikat para pembaca karya-karyanya.

Untuk hari ini, film yang kembali mengisahkan petualangan Prof. Robert Langdon di kota Benua Eropa adalah hiburan tersendiri. Disuguhi dengan keindahan beberap situs sejarah di kota Florence dan Hagia Sophia, saya kembali terjebak dalam imajinasi “Ikut dalam Pengejaran”

800px-firenze-palvecchio05

The Palazzo Vecchio in Florence

Film ini dimulai dari adegan Langdon yang terbangun di kamar rumah sakit dengan luka di kepala dan ingatan yang hilang. Berdiri wanita cantik berambut coklat menatapnya lekat, yang ternyata adalah dokter Sienna Brooks, dokter rumah sakit yang merawatnya.

“Amnesia ringan. Membutuhkan waktu beberapa hari agar ingatanmu pulih kembali”ujar Sienna yang melihat Robert Langdon meringis kesakitan memegang kepalanya.

Tanpa identitas, dompet, barang-barang pribadi, ingatan yang hilang, dan tiba-tiba datang ke Rumah Sakit, bola mata Sienna membesar menunjukkan rasa ingin tahu terhadap lelaki tersebut.

Robert Langdon masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Yang ia ingat, terakhir kali ia masih di Boston.

“Apakah aku di Boston?” Sebelum ada yang menjawab, ia langsung menyadari di kota mana ia berada ketika melihat bangunan-bangunan kota dari balik jendela.

“Ah! Florence! Kenapa aku ada di sini?” pekik Langdon

Sienna menanggapinya dengan kebingungan yang sama.

“Profesor, Anda kesini tanpa membawa apapun, hanya dengan luka peluru di kepala!”

Langdon terlihat kaget.

“Lalu, bagaimana kamu bisa tahu aku?” tukas Langdon

Sienna terdiam sejenak.

“Karena aku pernah bertemu Anda sebelumnya. Aku mengikuti kuliah Anda ketika berumur 9 tahun. Aku pun membaca semua karya Anda. Aku menyukainya,” jawab Sienna.

Langdon terkesima.

“Bagaimana Anda bisa ada di sini Profesor?”

Pertanyaan tersebut membuat kepala Robert Langdon sakit. Ia berpikir keras berusaha mengingat. “Aku tidak tahu!”

Persis saat itu, tiba-tiba.

Dor Dor!

Perempuan berseragam polisi masuk dan menembakkan senapan kepada perawat rumah sakit. Langdon dan Sienna melihatnya dari pintu kamar yang terbuka lebar.

Polisi itu pun berlari ke arah tempat Langdon berada sambil mengarahkan senapannya kepada Langdon.

Sebelum tembakan lepas, Sienna langsung menutup dan mengunci pintu kamar tersebut.

Mereka saling memandang. Napas mereka memburu. Insting menyelamatkan diri memunculkan gerak reflex yang cepat.

Langdon berusaha bangun terkoyong-koyong dari tempat tidur, melepas jarum infus yang melekat di lengannya.

Sienna membopong Langdong, bersama-sama berlari ke arah pintu lain di kamar tersebut.

Pengejaran pun dimulai! Langdon disuguhi misteri untuk ia pecahkan. Tidak mudah, karena pilihannya ia mati jika tidak menemukan jawaban dari teka-teki.

“CERCA TROVA, yang artinya Seek and Find!” demikian bunyi salah satu petunjuk yang Langdon dapatkan setelah menelaah gambar INFERNO dari proyektor mini rahasia yang terdapat di kantongnya.

Dan….

Akan lebih menarik bila Anda menonton filmnya sendiri atau membaca novelnya langsung.

main

————————————————————————

Seperti biasa, apa insight yang kamu dapatkan setelah menonton film ini Pus?

  • Petualangan itu akan menarik ketika ada yang mengejar dan ada yang di kejar. Dan keduanya tidak mudah dipahami, semacam teka-teki yang menuntut untuk terus menerus kita pecahkan setiap harinya. Seharusnya hidup kita adalah petualangan yang super seru, karena selalu ada yang mengejar kita yaitu kematian (kita tidak tahu kapan pasti datangnya) dan ada yang kita kejar, yaitu Allah (yang cuma bisa kita kenali dari petunjuk kitab suci dan tanda-tanda alam semesta). Aih!
  • Petualangan yang menarik membutuhkan adanya tim. Kita akan selalu mendapatkan rekan-rekan yang tepat dalam membantu kita menyelesaikan petualangan, di saat yang juga tepat.
  • “Cinta membangkitkan jiwa untuk bertindak.”kata Bertrand Zobrist pada Sienna Brooks, yang ia kutip dari perkataan Dante Alighieri. Tampaknya … hmm… ini benar.
  • Langdon berkata pada Elizabet, “Dahulu nelayan belajar berlayar dari pertemuan air hangat dan dingin. Ikan kecil akan berhenti di ujung air hangat. Ikan besar keluar dari air dingin dan memakan mereka. Lalu nelayan menangkap semua ikan.” \
    Artinya broh?
    Saya seperti diingatkan kembali untuk selalu berusaha berpikir di atas semua yang terjadi. Penting bagi kita selalu berusaha melihat segala sesuatu secara menyeluruh agar tidak mudah diperdaya situasi. Tidak menjadi ikan besar yang pongah dan tidak juga menjadi ikan kecil yang bodoh.
  • Dengan sensasi kesenangan yang saya dapat dari menonton film-film seperti Inferno, saya jadi semakin menyadari bahwa saya mencintai petualangan. Oleh karenanya, saya berpikir bahwa akan sangat menyenangkan bila suatu saat nanti saya dapat mengunjungi situs-situs sejarah di berbagai tempat di dunia dengan teman dekat. Insya Allah