Dari Inferno sampai Cerca Trova

Sebuah tontonan menghibur otak atas pengejaran yang mengesankan. Ide brilian, penipuan, teka-teki, motif, fakta sejarah, asmara, kegilaan, dan alur yang tidak mudah terprediksi adalah cara Dan Brown memikat para pembaca karya-karyanya.

Untuk hari ini, film yang kembali mengisahkan petualangan Prof. Robert Langdon di kota Benua Eropa adalah hiburan tersendiri. Disuguhi dengan keindahan beberap situs sejarah di kota Florence dan Hagia Sophia, saya kembali terjebak dalam imajinasi “Ikut dalam Pengejaran”

800px-firenze-palvecchio05

The Palazzo Vecchio in Florence

Film ini dimulai dari adegan Langdon yang terbangun di kamar rumah sakit dengan luka di kepala dan ingatan yang hilang. Berdiri wanita cantik berambut coklat menatapnya lekat, yang ternyata adalah dokter Sienna Brooks, dokter rumah sakit yang merawatnya.

“Amnesia ringan. Membutuhkan waktu beberapa hari agar ingatanmu pulih kembali”ujar Sienna yang melihat Robert Langdon meringis kesakitan memegang kepalanya.

Tanpa identitas, dompet, barang-barang pribadi, ingatan yang hilang, dan tiba-tiba datang ke Rumah Sakit, bola mata Sienna membesar menunjukkan rasa ingin tahu terhadap lelaki tersebut.

Robert Langdon masih berkutat dengan pikirannya sendiri. Yang ia ingat, terakhir kali ia masih di Boston.

“Apakah aku di Boston?” Sebelum ada yang menjawab, ia langsung menyadari di kota mana ia berada ketika melihat bangunan-bangunan kota dari balik jendela.

“Ah! Florence! Kenapa aku ada di sini?” pekik Langdon

Sienna menanggapinya dengan kebingungan yang sama.

“Profesor, Anda kesini tanpa membawa apapun, hanya dengan luka peluru di kepala!”

Langdon terlihat kaget.

“Lalu, bagaimana kamu bisa tahu aku?” tukas Langdon

Sienna terdiam sejenak.

“Karena aku pernah bertemu Anda sebelumnya. Aku mengikuti kuliah Anda ketika berumur 9 tahun. Aku pun membaca semua karya Anda. Aku menyukainya,” jawab Sienna.

Langdon terkesima.

“Bagaimana Anda bisa ada di sini Profesor?”

Pertanyaan tersebut membuat kepala Robert Langdon sakit. Ia berpikir keras berusaha mengingat. “Aku tidak tahu!”

Persis saat itu, tiba-tiba.

Dor Dor!

Perempuan berseragam polisi masuk dan menembakkan senapan kepada perawat rumah sakit. Langdon dan Sienna melihatnya dari pintu kamar yang terbuka lebar.

Polisi itu pun berlari ke arah tempat Langdon berada sambil mengarahkan senapannya kepada Langdon.

Sebelum tembakan lepas, Sienna langsung menutup dan mengunci pintu kamar tersebut.

Mereka saling memandang. Napas mereka memburu. Insting menyelamatkan diri memunculkan gerak reflex yang cepat.

Langdon berusaha bangun terkoyong-koyong dari tempat tidur, melepas jarum infus yang melekat di lengannya.

Sienna membopong Langdong, bersama-sama berlari ke arah pintu lain di kamar tersebut.

Pengejaran pun dimulai! Langdon disuguhi misteri untuk ia pecahkan. Tidak mudah, karena pilihannya ia mati jika tidak menemukan jawaban dari teka-teki.

“CERCA TROVA, yang artinya Seek and Find!” demikian bunyi salah satu petunjuk yang Langdon dapatkan setelah menelaah gambar INFERNO dari proyektor mini rahasia yang terdapat di kantongnya.

Dan….

Akan lebih menarik bila Anda menonton filmnya sendiri atau membaca novelnya langsung.

main

————————————————————————

Seperti biasa, apa insight yang kamu dapatkan setelah menonton film ini Pus?

  • Petualangan itu akan menarik ketika ada yang mengejar dan ada yang di kejar. Dan keduanya tidak mudah dipahami, semacam teka-teki yang menuntut untuk terus menerus kita pecahkan setiap harinya. Seharusnya hidup kita adalah petualangan yang super seru, karena selalu ada yang mengejar kita yaitu kematian (kita tidak tahu kapan pasti datangnya) dan ada yang kita kejar, yaitu Allah (yang cuma bisa kita kenali dari petunjuk kitab suci dan tanda-tanda alam semesta). Aih!
  • Petualangan yang menarik membutuhkan adanya tim. Kita akan selalu mendapatkan rekan-rekan yang tepat dalam membantu kita menyelesaikan petualangan, di saat yang juga tepat.
  • “Cinta membangkitkan jiwa untuk bertindak.”kata Bertrand Zobrist pada Sienna Brooks, yang ia kutip dari perkataan Dante Alighieri. Tampaknya … hmm… ini benar.
  • Langdon berkata pada Elizabet, “Dahulu nelayan belajar berlayar dari pertemuan air hangat dan dingin. Ikan kecil akan berhenti di ujung air hangat. Ikan besar keluar dari air dingin dan memakan mereka. Lalu nelayan menangkap semua ikan.” \
    Artinya broh?
    Saya seperti diingatkan kembali untuk selalu berusaha berpikir di atas semua yang terjadi. Penting bagi kita selalu berusaha melihat segala sesuatu secara menyeluruh agar tidak mudah diperdaya situasi. Tidak menjadi ikan besar yang pongah dan tidak juga menjadi ikan kecil yang bodoh.
  • Dengan sensasi kesenangan yang saya dapat dari menonton film-film seperti Inferno, saya jadi semakin menyadari bahwa saya mencintai petualangan. Oleh karenanya, saya berpikir bahwa akan sangat menyenangkan bila suatu saat nanti saya dapat mengunjungi situs-situs sejarah di berbagai tempat di dunia dengan teman dekat. Insya Allah

Kenapa Guru?

Gak tau mau nulis dari mana. Otak mlempem dan mata sepet. Tapi aku memutuskan untuk tetap membuka buku tulis (baca:notebook) dan menggerakkan jariku di atas papan kunci (baca:keyboard). Tapi kok bisa ada kunci di buku tulis yak?*abaikan.

Tiba-tiba.

Plak! Sebuah tamparan mengantarkanku melewati perjalanan lorong waktu.

Yup. Aku terdampar di sebuah tempat yang kami biasa sebut Rumah Cahaya. Tempat yang berbalut kesederhanaan dengan orang-orang yang juga sederhana.  Aku melihat semuanya sederhana. Kecuali satu kerumitan, yaitu AKU….*as usual

“Hei. Ngapain sih aku disini?”pikirku.

Lalu aku melihat sosok another diriku yang merupakan penduduk asli lorong waktu. “Wow! Itu akuuu…” aku berteriak kaget. Tapi anehnya tidak ada orang yang mendengar. Aku berada di sebuah ruang kelas, bersama sejumlah perempuan. Tampaknya para perempuan ini sedang menunggu kedatangan seseorang. Mungkin Sang Guru…

Apa peduli.

“Yang penting Mana aku?” tanya aku. Maksudnya si aku yang dari lorong waktu loh.

Si aku lorong waktu duduk di pojokan. Seperti biasa. Itu tempat favoritnya. Psstt… Itu karena agar tidak terlihat dari pandangan. Karena si aku lorong waktu berencana tertidur di kuliahnya malam itu.  Dasar!

Sementara yang lain sibuk mempersiapkan kertas untuk mencatat penjelasan Sang Guru, si aku lorong waktu tentu saja sibuk menyiapkan kitab-kitab tebal sakti mandraguna. Buat pencitraan sekaligus bantal … wkwkwk.

Tok-tok-tok.

Pintu kelas diketuk.

“Silakan ustadz” ujar salah seorang perempuan.

Tak lama pintu kelas pun terbuka. Masuklah seorang laki-laki berperawakan sedang. Tampak usianya hampir mencapai kepala empat. Kulitnya hitam legam dengan jenggot yang lebat. Pandangan matanya tajam, meski terlihat telah melalui kelelahan panjang seharian. Rahangnya mengatup kencang. Ia berjalan dengan langkah yang tegap dan pasti.

Menampilkan sosok bermental kuat.

Semua perempuan di dalam kelas menahan napas ketika laki-laki ini masuk.

Bukan-bukan! Bukan karena terpesona karena ketamfanan ataupun kekecean laki-laki tersebut . Para perempuan yang ternyata usut punya usut adalah berstatus murid Sang Guru, merasakan keseganan luar biasa di hadapan guru ini.

Yup! Betul sekali. Semuanya menunjukkan keseganan dan penghormatan karena aura kasih Sang Guru, kecuali satu. Lagi-lagi AKU! Yang ndelalahnya saat itu aku sudah tertidur dipojokan. Ampun!

Sang Guru mengucap salam. Para murid menjawab salam.

Lalu Sang Guru pun duduk di kursi kebesarannya…

Terdengar sayup-sayup suara kemeronceng gelas kaca dan tutup besinya. Sang Guru mulai meneguk teh hangat yang sudah disiapkan.

Guru melirik aku. Ulah aku membuat Sang Guru tersenyum dan geleng-geleng kepala. Beliau tampak tidak terganggu pada kenyataan bahwa aku merupakan jenis murid berkebutuhan khusus yang tidak mudah ditundukkan. Sang Guru menarik napas panjang sambil menatap langit-langit kelas.

”Saya membayangkan Asma Amanina akan mewarnai dunia!” tiba-tiba ia mengeluarkan suara menggelegar dan menggetarkan sehingga mampu membangunkan aku yang tadinya sudah mulai lelap.

Aku menggosok-gosokkan matanya yang setengah terpejam. Agak kaget karena kerasnya suara.

“Kalian para santriwati akan berperan besar dalam kebangkitan Islam!”

Aku melongo. Sel-sel otak aku tampak mulai aktif untuk mencerna kata-kata Sang Guru.

“Aku yang seperti ini berperan besar dalam kebangkitan Islam? Haha. Emang bisa? Ngimpi kali!” pikir Aku geli.

Sang Guru melihat aku yang aneh dan bodoh dengan tatapan kasihnya.

“Mbak Puspa sudah bangun?” sapanya hangat.

Aku tersenyum meringis sambil garuk-garuk kepala. “Eh. Iya Ustadz. Ketiduran”

Ustadz pun tertawa.

Lalu ustadz mulai mengajar dan santri mulai belajar.

Semua di ruangan itu melakukan aktivitasnya, belajar-mengajar, kecuali satu. Ya… Lagi-lagi Aku.

Aku terlalu liar untuk ditundukkan. Aku tidak bisa menjadi seperti semua orang.

Oleh karenanya aku pun tetap melanjutkan tidur, …. tapi  sambil terus memeluk mimpi Sang Guru.

“Berperan besar dalam Kebangkitan Islam!” kalimat yang selalu terngiang-ngiang dalam mimpi Aku.

 

—————————–

Aku dari luar lorong waktu menyaksikan perilaku aku lorong waktu.  Tapi ia tidak bisa melakukan apapun yang harus ia lakukan, termasuk menjewer aku lorong waktu agar menjaga etika dan adab.

Aku dari luar lorong waktu semakin dipenuhi pertanyaan dan kerumitan. “Kenapa Guru? Kenapa Aku seperti ini?” ia mencoba bertanya pada Sang Guru yang sedang bergoyang… eh … berdiri maksudnya

Tapi Sang Guru tetap dengan ketenangan senyumnya. Mengajar tiada henti. Selalu kasih tiada kembali. Mendiamkan Aku.

Meski aku bertanya berulang kali, Sang Guru tetap diam dan tersenyum.

Plak. Ini seperti tamparan kedua. Diamnya Sang Guru sangat menyakitkan bagi Aku.

Aku dari luar lorong waktu pun menyadari bahwa tidak ada satupun yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya, kecuali mungkin satu.

Yaitu WAKTU

Aku mulai berjalang lunglai. Ia harus segera pulang. Berjalan melewati lorong dan belajar kembali untuk berdamai dengan waktu. Karena hanya waktu yang bisa menjawab semua pertanyaannya.